Jumat, 20 Juni 2014

Tergantinya Bulan oleh Fajar

Senja pun tiba,bergelut dengan cahaya matahari yang sedari tadi menampakkan wajahnya.Entah bagaimana aku tak mengetahui kenapa tak ada sedikitpun tanda-tanda bulan menampakkan cahayanya.Sungguh,aku tak bisa menyadari semua itu,aku tak bisa percaya jika aku harus melalui malam ini tanpa cahaya bulan.Dan kini aku putuskan untuk tetap termangu menunggu kehadiran bulan.Oh bulan kenapa kau tak hadir malam ini? kenapa kau tak memberiku satu alasan atas ketidak hadiranmu?.Dengarlah bulan sungguh aku tak bisa menyelesaikan semua ini tanpa kehadiranmu.Ya,memang harus ku akui,aku sangat tergantung akan kehadiran bulan semenjak aku memutuskan untuk menjadikan bulan sebagai idola.Dan semenjak aku memberikan salah satu ruangan dihatiku untuk bulan,aku tak bisa melakukan semuanya jika tak ada bulanku dan aku juga tak bisa merasa nyenyak jika tidur tanpa cahaya bulan.
Detik demi detikpun terlalui dan aku masih memegang  laptopku sembari mengeklik semua file yang tersimpan didalamnya.Aku pun mencoba untuk move on dan beralih untuk menuliskan isi hatiku namun apadaya semua itu tak bisa kulakukan.Sampai saatnya akupun terlelap dalam tidurku,hingga suatu saat aku dihinggapi mimpi,mimpi itu begitu terlihat nyata adanya.Awalnya aku berjalan disebuah taman yang luas,disana aku tak bisa mendapatkan apa-apa kecuali danau dan perahu bambu,akhirnya aku memutuskan untuk duduk dipinggir danau,tak lama kemudian muncullah sosok pemuda misterius dengan wajah jawa,kulit kuning gading berperawakan pendek,dan rambut yang bergaya korean style.Orang itu tiba-tiba datang menghampiriku dan menyapaku dengan lembut.Aku yang tak mengenal dia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalaku.Sesaat setelah pemuda itu duduk disebuah bangku kayu beberapa menit kemudian muncullah suatu percakapan yang sangat hangat.Berawal dari perbincangan yang sangat singkat itu akhirnya kita terlihat sangat akrab.Senja pun datang  mengusik semua ketenangan yang mengelilingi aku dan pemuda itu.Seketika aku langsung melangkahkan kakiku menuju sebuah perahu bambu yang sedari tadi sudah setia menungguku dipinggir danau itu.Tak berpikir panjang aku kayuhkan perahu itu menuju keseberang danau,sesampainya diseberang aku langsung berlari menuju sebuah rumah yang berbahan kayu,rumah yang nampak indah,nampak unik,rumah yang sangat erat dengan etnhicnya.Rumah itu yang tak lain adalah rumahku.Setelah memasuki rumah,aku langsung menuju kamar kemudian aku duduk di mulut jendela sembari menanti idolaku muncul untuk menyinari malam sunyi ini.
Tak lama setelah sosok sinar itu muncul tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di pikiranku akan pemuda yang ada di danau itu.Dia nampak begitu tampan dengan senyum simpul dibibirnya.Hidungnya tinggi sehingga membuatnya lebih nampak seperti artis korea.Giginya tersusun sangat rapi hal itu mengisyaratkan kalau dia orangya rapi.Sikapnya yang nampak keras,berbicara seperlunya membuat hati para wanita semakin terpikat.Setelah aku membayangkan wajahnya aku baru ingat kalau aku bahkan belum sempat untuk menanyakan namanya,namun aku yakin esok fajar aku akan bertemu dengannya di danau itu lagi,karena dia bercerita dia adalah pengagum berat fajar.
Keesokan harinya aku langsung berlari menuju perahu bambu itu,kemudian mengayuhnya kesebrang danau itu.Benar seperti dugaanku tadi malam kalau dia pasti akan datang untuk melihat fajar datang.Dia berdiri tepat mengghadap dimunculnya fajar,senyum simpul mulai terlukis setelah setitik goresan langit jingga mulai muncul.Aku menikmati senyumannya itu sampai-sampai aku tak menyadari kalau pemuda itu berjalan mundur mendekatiku dan mulai melirikku.Setelah sedetik kemudian aku baru menyadari kedatangannya,kemudian kita duduk diatas bukit dekat danau itu sembari mendengarkan kicauan burung yang mengiringi munculnya sang fajar.Tak terasa tangan kananku dengan reflek bertemu dengan tangan kiriku dan aku gosok-gosokkan satu dan lain ,memang pagi itu sangat dingin sekali.Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tanganku dan menaruhnya di saku mantel tebalnya.Aku terkejut melihat tingkah pemuda itu yang terlihat begitu penuh ketulusan dan kepekaan,seketika suasana berubah menjadi hening kicauan burungpun tak terdengar lagi.Dengan segera aku memacah suasana,tak terasa sebuah percakapan muncul aku bertanya padanya siapa nama pemuda itu,diapun menjawabnya.Ternyata nama pemuda itu adalah Andreas Gumilang Fajar namun biasa dipanggil Andre.Setelah berbincang cukup lama tak terasa jam menunjukkan pukul 6,itu artinya aku harus segera pulang untuk mencari kayu bakar di belakang rumah.
Tak berpikir panjang aku langsung menarik tanganku dari kantong Andre dan kemudian berlari menuruni bukit meninggalkan Andre diatas sendirian.Andre yang tak mengetahui alasanku pergipun berusaha mengejarku namun tak bisa terkejar karena tak ada alat untuk menyebrangi danau itu.Sesampainya di rumah aku langsung bergegas menuju pekarangan dan mengumpulkan kayu,kemudian aku bawa kesamping rumah untuk bahan bakar pembuatan gerabah.Di samping rumah itu sudah ditunggu ayahku,dia nampak bersemangat untuk membakar semua gerabah karena ada borongan dan besok sore akan diambil.Malam harinya seperti biasa aku setia menunggu kehadiran bulan,namun aku merasa ada keganjalan kenapa aku tak seantusias kemarin saat menunggu bulan apa hatiku sudah berpaling kepada sosok Andre.Keesokan harinya aku tak bisa pergi kedanau untuk menemui pencuri hatiku karena ayah memintaku untuk membantunya membungkus gerabah.Sorepun tiba pembeli gerabah sudah sampai di pinggir danau,akupun berfikir sejenak sepertinya aku mengenali pemuda yang ada dibelakang pria tua itu.Akhirnya aku menyadari pemuda itu adalah Andre,”dunia memang sempit” kata Andre setelah sampai tepat dihadapanku.Akupun hanya bisa membalasnya dengan senyum simpul.
Tak berfikir panjang aku langsung menarik tangan Andre dan mengajaknya berkeliling di pekarangan belakang rumah.Tak terasa kami tiba di sebuah hutan,burung-burung berkicauan seakan mengiringi kepergian kami berdua.Tiba-tiba muncullah seekor ular yang menghalangi jalanku,seketika aku terkejut dan berlindung diballik bahu Andre.Dengan sigap Andre mengusir ular itu,mengetahui aku masih merasa ketakutan akhirnya dia merangkulku dan mengajakku duduk dibawah pohon yang rindang itu.Sesampainya di pohon kami berbincang-bincang,banyak hal yang kami bicarkan mulai dari hal penting sampai hal-hal yang tak masuk akal.Tak terasa matahari sudah di atas kepala kami pun memutuskan untuk pulang.Sesampainya di rumah Andre minta izin pulang sembari membawa gerabah pesanannya.
Malam pun tiba aku terlelap dalam tidurku tanpa melihat sang idolaku menampakkan wajahnya.Hari-hariku semakin berwarna dengan adanya Andre yang selalu datang ke rumah untuk belajar membuat gerabah.Memang aku akui hari-hari ku kini berubah semenjak kehadiran Andre,aku menjadi lebih ceria,lebih memperhatikan gaya,lebih rapi, lebih mau bekerja membantu ayah,dan aku juga sudah tidak lagi menunggu kehadiran bulan saat malam datang.Entah kenapa aku merasa hatiku sudah tertambat pada sosok pemuda itu.Pagi ini aku janjian sama Andre bertemu di danau,setelah aku selesai mencari kyu bakar dan membantu ayah dengan gerabahnya aku langsung bergegas menuju perahu bambu dan mengayuhnya ke seberang danau.Sesampainya di seberang danau aku tak melihat batang hidung Andre,seketika batinku tersentak apa Andre pulang karena aku tadi tak kunjung datang.Dengan penuh penyesalan aku menaikki bukit,sesampainya di puncak aku langsung duduk pandanganku kosong penuh tanda tanya sampai-sampai aku melamun,tiba-tiba lamunanku buyar ketika ada seonggok bunga mawar biru berada tepat dihadapanku.Aku mengikuti tangan pemegang bunga itu dan kemudian aku dapati Andre tengah tersenyum.Kali ini dia sukses membuat hatiku sedih sekaligus bahagia.Kemudian kami duduk di atas bukit,dia bercerita kalau sedari tadi dia bersembunyi dibalik bukit.Tiba-tiba percakapan menjadi serius ketika Andre berkata padaku kalau dia menyukai aku dan ingin menjadikannku sebagai pacarnya.Tepat di penghujung bulan November aku dan Andre resmi berpacaran.Hari-hariku semenjak itu menjadilebih berwarna,tak ada kesediah tersirat diwajahku.Pada suatu pagi Andre mengajakku berkeliling danau.Tiba-tiba terdengar suara “Kriiingggkringgg” suara itu membangunkan aku dari mimpi indahkku.Aku yang enggan bangun itu mau tidak mau harus bangun karena sekolah sudah menantiku di ujung sana.
Semenjak hari itu aku selalu berharap agar Tuhan memberiku mimpi yang sama agar aku bisaa melanjutkan kisahku bersama Andre.Namun aku juga sempat berharap kalau kejadian itu bisa menjadi nyata,namun itu semua tak bisa karena semua itu hanya bayangan ilusi saja.Hari-hariku terasa begitu hampa setelah aku menyadari Andre tak ada,dan semenjak kejadian itu aku selalu bangun lebih awal untuk menyaksikan kemunculan fajar.Dan setiap malamnya aku selalu terlelap lebih awal tanpa menghiraukan kehadiran Bulan lagi.Aku merasa kini kehadiran bulan sudah mulai tergaantikan oleh fajar.





Rabu, 18 Juni 2014

Tetes air hujan mulai terdengar seakan ingin mengiringi perginya kesunyian yang selama ini menghantuiku.Rintikan itu satu persatu mulai terdengar begitu keras,sehingga membuat hati yang tadinya hampa menjadi bernada.Nada-nada itu kian detik semakin tinggi seperti halnya rasaku yang aku tancapkan di hatimu.Semakin hari semakin kian menjadi.
Setiap waktu,setiap detik setiap..........

Jumat, 13 Juni 2014

aku terpikat akan senyummu wahai pemilik senyum abadi

        Senyummu nampak sangat berarti bagiku,karna senyummu adalah hal terlangka yang aku dapatkan.
kau selalu nampak begitu keras namun sekalinya tersenyum,senyumanmu sangat indah dan membuat kalbu ini tercengan.Wahai pemilik senyum abadi tak kusangka pertemuan kita kemarin adalah pertemuan terakhir kita,perbincangan kita kemarin adalah penutup dari season ini.
         Aku tak menyangka kemarin itu adalah saat-saat berharga bagiku yang seharusnya aku manfaatkan untuk melihat senyummu itu.Tapi kenapa aku kemarin terlihat begitu bodoh sehingga tak menyadari semua pertanda yang ada.Namun aku bahagia karena kamu menyisakan goresan kenangan indah waktu itu,saat kita berbincang bersama.

bukan akhir perjalanan ini

          Tak terasa sudah setahun perjalanan ini aku lalui disebuah ruangan sebelah timur lapangan basket itu.Ruangan yang nampak begitu mungil namun dapat menampung 37 orang dan 37 macam karakter orang pula.Ruangan yang terlihat begitu tenang dari kejauhan.Ruangan itu diberi nama XI IPA 2 atau yang lebih akrab di panggil dengan nama SPAROW.Didalam ruangan itu berkumpullah orang orang hebat ini,orang yang sangat berperan penting dalam hidupku,orang yang memberi warna di hidupku.Orang orang yang akan menjadi orang sukses dikelak kemudian hari.Orang orang itu adalah andika,angga,cibong,danu,eli,cindori,itoh,bela,tutik,dies,uzi,ida,bogel,jejen,karom,naya,winil,mita,budi,hanip,zuhri,rais,anur,zipa,najem,nando,ucol,mala,otak,putri,wawan,evan,upeh,usmin,ituk dan zam.Mereka merekalah orang terdekatku selama aku mengarungi satu tahun berhargaku ini.
          Kembali kemasa satu tahun yang lalu dimana saat aku pertama kalinya aku menginjakkan kakiku dikelas itu,suasananya terasa sangat mencekam.Orang orangnya nampak sangat serius,diwajah wajahnya tergambar sebuah perjuangan keras dan terlukis ketulusan yang mendalam.Namun seiring berjalannya waktu kelas yang dulunya aku kira bakal menjadi kegelapan bagiku kini berubah menjadi kelas yang bersinar,kelas yang penuh warna dan berjuta karkter didalamnya.Suka duka kita lalui bersama,perselisihan,pergelutan batin pun sempat menerpa kita namun dengan sikap dewasa kita bisa mengarungi semua hal hal yang berbau perpecahan itu dengan mudah.
          Kini masa itu akan menuju dermaga,setelah itu kita akan berpisah.Semua akan pergi sendiri sendiri,entah siapa akan bertemu dengan siapa aku pun tak tahu tinggal menunggu waktu yang akan menjawabnya.Meski dermaga itu semakin mendekat namun kenapa hati ini seakan tak mau berpisah untuk kesekiankalinya.
           Aku yakin ini bukan sebuah akhir namun aku juga tak mau begitu saja meninggalkan semua yang pernah kita lalui bersama.Akan tetapi aku percaya kalau hati kita akan selalu bersama walau raga tak bisa bersama.Mari kita berjuang bersama..
         

akulah si penghuni absen 33 di Sparow yang selalu ingin melihat sebuah senyuman terlukis diwajah kalian.