Tergantinya Bulan oleh Fajar
Senja
pun tiba,bergelut dengan cahaya matahari yang sedari tadi menampakkan wajahnya.Entah bagaimana aku tak mengetahui kenapa
tak ada sedikitpun tanda-tanda bulan menampakkan cahayanya.Sungguh,aku tak bisa menyadari semua itu,aku tak bisa percaya jika aku harus melalui malam ini tanpa cahaya
bulan.Dan kini
aku putuskan untuk tetap termangu
menunggu kehadiran bulan.Oh bulan kenapa kau tak hadir malam ini? kenapa kau tak memberiku satu alasan atas ketidak hadiranmu?.Dengarlah bulan sungguh aku tak bisa menyelesaikan semua ini tanpa kehadiranmu.Ya,memang harus ku akui,aku sangat tergantung akan kehadiran bulan semenjak aku memutuskan untuk
menjadikan bulan sebagai idola.Dan semenjak aku memberikan salah satu ruangan
dihatiku untuk bulan,aku tak bisa melakukan semuanya jika tak ada bulanku dan aku juga tak bisa merasa
nyenyak jika tidur tanpa cahaya bulan.
Detik
demi detikpun terlalui dan aku masih memegang
laptopku sembari mengeklik semua file yang
tersimpan didalamnya.Aku pun mencoba untuk move on dan beralih untuk menuliskan
isi hatiku namun apadaya semua itu tak bisa kulakukan.Sampai saatnya akupun
terlelap dalam tidurku,hingga suatu saat aku dihinggapi mimpi,mimpi itu begitu terlihat nyata adanya.Awalnya aku berjalan disebuah taman yang luas,disana aku tak bisa mendapatkan apa-apa kecuali danau dan perahu bambu,akhirnya aku memutuskan untuk duduk dipinggir
danau,tak lama kemudian muncullah sosok pemuda misterius
dengan wajah jawa,kulit kuning gading berperawakan
pendek,dan
rambut yang bergaya korean style.Orang
itu tiba-tiba datang menghampiriku dan menyapaku dengan lembut.Aku yang tak mengenal dia hanya bisa tersenyum dan
menganggukkan kepalaku.Sesaat setelah pemuda itu duduk disebuah bangku kayu beberapa menit
kemudian muncullah suatu percakapan yang sangat hangat.Berawal dari
perbincangan yang sangat singkat itu akhirnya kita terlihat sangat akrab.Senja
pun datang mengusik semua ketenangan
yang mengelilingi aku dan pemuda itu.Seketika aku langsung melangkahkan kakiku menuju
sebuah perahu bambu yang sedari tadi sudah setia menungguku dipinggir danau
itu.Tak berpikir panjang aku kayuhkan perahu itu menuju keseberang
danau,sesampainya diseberang aku langsung berlari menuju sebuah rumah yang
berbahan kayu,rumah yang nampak indah,nampak unik,rumah yang sangat erat dengan
etnhicnya.Rumah itu yang tak lain adalah rumahku.Setelah memasuki rumah,aku
langsung menuju kamar kemudian aku duduk di mulut jendela sembari menanti
idolaku muncul untuk menyinari malam sunyi ini.
Tak lama setelah sosok sinar itu muncul tiba-tiba
ada sesuatu yang melintas di pikiranku akan pemuda yang ada di danau itu.Dia
nampak begitu tampan dengan senyum simpul dibibirnya.Hidungnya tinggi sehingga
membuatnya lebih nampak seperti artis korea.Giginya tersusun sangat rapi hal itu
mengisyaratkan kalau dia orangya rapi.Sikapnya yang nampak keras,berbicara
seperlunya membuat hati para wanita semakin terpikat.Setelah aku membayangkan
wajahnya aku baru ingat kalau aku bahkan belum sempat untuk menanyakan
namanya,namun aku yakin esok fajar aku akan bertemu dengannya di danau itu
lagi,karena dia bercerita dia adalah pengagum berat fajar.
Keesokan harinya aku langsung berlari menuju perahu
bambu itu,kemudian mengayuhnya kesebrang danau itu.Benar seperti dugaanku tadi
malam kalau dia pasti akan datang untuk melihat fajar datang.Dia berdiri tepat
mengghadap dimunculnya fajar,senyum simpul mulai terlukis setelah setitik
goresan langit jingga mulai muncul.Aku menikmati senyumannya itu sampai-sampai
aku tak menyadari kalau pemuda itu berjalan mundur mendekatiku dan mulai melirikku.Setelah
sedetik kemudian aku baru menyadari kedatangannya,kemudian kita duduk diatas
bukit dekat danau itu sembari mendengarkan kicauan burung yang mengiringi
munculnya sang fajar.Tak terasa tangan kananku dengan reflek bertemu dengan
tangan kiriku dan aku gosok-gosokkan satu dan lain ,memang pagi itu sangat
dingin sekali.Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tanganku dan menaruhnya
di saku mantel tebalnya.Aku terkejut melihat tingkah pemuda itu yang terlihat
begitu penuh ketulusan dan kepekaan,seketika suasana berubah menjadi hening
kicauan burungpun tak terdengar lagi.Dengan segera aku memacah suasana,tak
terasa sebuah percakapan muncul aku bertanya padanya siapa nama pemuda
itu,diapun menjawabnya.Ternyata nama pemuda itu adalah Andreas Gumilang Fajar
namun biasa dipanggil Andre.Setelah berbincang cukup lama tak terasa jam
menunjukkan pukul 6,itu artinya aku harus segera pulang untuk mencari kayu
bakar di belakang rumah.
Tak berpikir panjang aku langsung menarik tanganku
dari kantong Andre dan kemudian berlari menuruni bukit meninggalkan Andre
diatas sendirian.Andre yang tak mengetahui alasanku pergipun berusaha
mengejarku namun tak bisa terkejar karena tak ada alat untuk menyebrangi danau
itu.Sesampainya di rumah aku langsung bergegas menuju pekarangan dan
mengumpulkan kayu,kemudian aku bawa kesamping rumah untuk bahan bakar pembuatan
gerabah.Di samping rumah itu sudah ditunggu ayahku,dia nampak bersemangat untuk
membakar semua gerabah karena ada borongan dan besok sore akan diambil.Malam
harinya seperti biasa aku setia menunggu kehadiran bulan,namun aku merasa ada
keganjalan kenapa aku tak seantusias kemarin saat menunggu bulan apa hatiku
sudah berpaling kepada sosok Andre.Keesokan harinya aku tak bisa pergi kedanau
untuk menemui pencuri hatiku karena ayah memintaku untuk membantunya membungkus
gerabah.Sorepun tiba pembeli gerabah sudah sampai di pinggir danau,akupun
berfikir sejenak sepertinya aku mengenali pemuda yang ada dibelakang pria tua
itu.Akhirnya aku menyadari pemuda itu adalah Andre,”dunia memang sempit” kata
Andre setelah sampai tepat dihadapanku.Akupun hanya bisa membalasnya dengan
senyum simpul.
Tak berfikir panjang aku langsung menarik tangan
Andre dan mengajaknya berkeliling di pekarangan belakang rumah.Tak terasa kami
tiba di sebuah hutan,burung-burung berkicauan seakan mengiringi kepergian kami
berdua.Tiba-tiba muncullah seekor ular yang menghalangi jalanku,seketika aku
terkejut dan berlindung diballik bahu Andre.Dengan sigap Andre mengusir ular
itu,mengetahui aku masih merasa ketakutan akhirnya dia merangkulku dan
mengajakku duduk dibawah pohon yang rindang itu.Sesampainya di pohon kami
berbincang-bincang,banyak hal yang kami bicarkan mulai dari hal penting sampai
hal-hal yang tak masuk akal.Tak terasa matahari sudah di atas kepala kami pun memutuskan
untuk pulang.Sesampainya di rumah Andre minta izin pulang sembari membawa
gerabah pesanannya.
Malam pun tiba aku terlelap dalam tidurku tanpa
melihat sang idolaku menampakkan wajahnya.Hari-hariku semakin berwarna dengan
adanya Andre yang selalu datang ke rumah untuk belajar membuat gerabah.Memang
aku akui hari-hari ku kini berubah semenjak kehadiran Andre,aku menjadi lebih
ceria,lebih memperhatikan gaya,lebih rapi, lebih mau bekerja membantu ayah,dan
aku juga sudah tidak lagi menunggu kehadiran bulan saat malam datang.Entah
kenapa aku merasa hatiku sudah tertambat pada sosok pemuda itu.Pagi ini aku
janjian sama Andre bertemu di danau,setelah aku selesai mencari kyu bakar dan membantu
ayah dengan gerabahnya aku langsung bergegas menuju perahu bambu dan
mengayuhnya ke seberang danau.Sesampainya di seberang danau aku tak melihat
batang hidung Andre,seketika batinku tersentak apa Andre pulang karena aku tadi
tak kunjung datang.Dengan penuh penyesalan aku menaikki bukit,sesampainya di
puncak aku langsung duduk pandanganku kosong penuh tanda tanya sampai-sampai
aku melamun,tiba-tiba lamunanku buyar ketika ada seonggok bunga mawar biru berada
tepat dihadapanku.Aku mengikuti tangan pemegang bunga itu dan kemudian aku
dapati Andre tengah tersenyum.Kali ini dia sukses membuat hatiku sedih
sekaligus bahagia.Kemudian kami duduk di atas bukit,dia bercerita kalau sedari
tadi dia bersembunyi dibalik bukit.Tiba-tiba percakapan menjadi serius ketika
Andre berkata padaku kalau dia menyukai aku dan ingin menjadikannku sebagai
pacarnya.Tepat di penghujung bulan November aku dan Andre resmi
berpacaran.Hari-hariku semenjak itu menjadilebih berwarna,tak ada kesediah
tersirat diwajahku.Pada suatu pagi Andre mengajakku berkeliling danau.Tiba-tiba
terdengar suara “Kriiingggkringgg” suara itu membangunkan aku dari mimpi
indahkku.Aku yang enggan bangun itu mau tidak mau harus bangun karena sekolah
sudah menantiku di ujung sana.
Semenjak hari itu aku selalu berharap agar Tuhan
memberiku mimpi yang sama agar aku bisaa melanjutkan kisahku bersama
Andre.Namun aku juga sempat berharap kalau kejadian itu bisa menjadi
nyata,namun itu semua tak bisa karena semua itu hanya bayangan ilusi
saja.Hari-hariku terasa begitu hampa setelah aku menyadari Andre tak ada,dan
semenjak kejadian itu aku selalu bangun lebih awal untuk menyaksikan kemunculan
fajar.Dan setiap malamnya aku selalu terlelap lebih awal tanpa menghiraukan
kehadiran Bulan lagi.Aku merasa kini kehadiran bulan sudah mulai tergaantikan
oleh fajar.